Nyata Mu Adalah Wujud Ku,Ada Mu Adalah Yakin Ku.

Senin, 23 Desember 2013

PENGUMUMAN KELULUSAN HASIL SELEKSI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH 2013

I. Dasar :
  1. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 9 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil.
  2. Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188.44/0433/KUM/2013 Tentang Tambagan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2013

Selengkapnya silahkan diunduh disini :
3. Daftar Nilai Peserta Berdasarkan Jabatan Yang Dilamar : (Masih dalam proses upload...)

NILAI HASIL HASIL TKD DAPAT DILIHAT PADA :
Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 24 Desember 2013 15:01 )

Sumber :   

Sejarah Kabupaten Tapin



Era 1950-1960-an wilayah Tapin berbentuk Kewedanan yaitu Kewedanan Tapin dengan ibukota Rantau, yang juga masih dalam daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) beribukota Kandangan. Kewedanan Tapin kala itu hanya mempunyai 3 wilayah kecamatan yakni kecamatan Tapin Utara ibukota Rantau, Kecamatan Tapin Selatan ibukota Tambarangan, Kecamatan Tapin Hilir ibukota Margasari.

Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 tentang pemerintahan daerah, di mana daerah provinsi menjadi daerah Swatantra tingkat I dan daerah kabupaten/kotapraja menjadi daerah Swatantra tingkat II. Dan diganti UU Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah, dimana daerah Swantantra I menjadi daerah provinsi dan daerah swatantra II, berubah menjadi daerah kabupaten/kotamdaya. Di Kalsel perubahan ini secara serentak diumumkan 17 Desember 1965, yang mana terjadi perubahan dengan penghapusan pemerintahan pada tingkat Kewedanan.

Dengan penghapusan itu, maka tokoh-tokoh masyarakat Tapin dan didukung para birokrat untuk berupaya mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi. Karena itu, tahun 1958 H Anang Acil Syofyan mengemukakan sebuah gagasan yang mengajak semua elemen masyarakat, ulama, tokoh, elit politik, birokrat, pemuda dan kelompok lainnya untuk mengajukan resolusi yaitu agar Pemerintah Kewedanan Tapin dapat ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten.

H Anang Acil Syofyan mula-mula mengemukakan ide itu kepada tokoh yakni H Hasyim Thaib dan Bakau M, dan dikalangan militer dikonsultasikan kepada Letnan Oendat, yang mulanya turut aktif menuntut berdirinya Kabupaten Tapin, Namun kemudian Oendat dilarang oleh atasan dalam kegiatan dinilai bermuatan politik praktis. Kemudian, H Anang Acil Syofyan, H Hasyim Thaib, Bakau M, dan kawan-kawan mendapat dukungan di Kecamatan Tapin Selatan dengan tokoh Guru Saleh, H Muhammad Ideram, M Juri, Pambakal Taun, Pambakal H Abas Abdul Jabar. Sedang di margasari Kecamatan Tapin Hilir juga didukung H Marali, H Kaspul Anwar, H Bajuri Shagir, dan lainnya.

Setelah beberapa waktu berjalan, pada tahun 1958 digelar musyawarah warga tapin di Balai Rakyat Rantau (sekarang Bank BPD Rantau), dan untuk melaksanakan berbagai keputusan musyawarah maka dibentuk sebuah badan yang diberi nama Badan Musyawarah Penuntut Kabupaten Tapin, yang diketuai H Isbat dan sekretaris Basuni Thaufik, yang dibantu anggota pengurus. Dan tahun 1961 bertempat di Gedung Bioskop Permata Rantau (sekarang lokasi pasar rantau dekat jembatan sungai Tapin) diselenggarakan Musyawarah Besar dengan menghasilkan keputusan yakni pertama, membubarkan Badan Musyawarah Penuntut Kabupaten Tapin dan membentuk badan baru yang bernama Badan Penuntut Kabupaten (Bapenkab) Tapin. Kedua, segera menyampaikan resolusi agar kewedanan Tapin dapat dijadikan daerah otonomi tingkat II Tapin.

Resolusi atau permohonan disampaikan kepada Presiden/Perdana Menteri RI, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah di Jakarta, Ketua dan anggota DPRD-GR HSS di Kandangan. Dengan tembusan resolusi yakni Gubernur KDH Tingkat I Kalsel di Banjarmasin, Panglima Kodam X/Lambung Mangkurat di Banjarmasin, Bupati KDH Tingkat II HSS di Kandangan, Wedana Tapin di Rantau, anggota DPRD-GR Provinsi Kalsel di Banjarmasin, anggota DPR-GR asal Kalsel di Jakarta, Pers (mediacetak/radio) untuk dipublikasikan. Tahun 1963 komisi B DPR-GR pusat melakukan kunjungan ke Kewedanan tapin untuk melihat kondisi riil Tapin yang pertemuan di Balai Rakyat Rantau, dari pertemuan itu DPR-GR pusat menyarankan agar Bapenkab Tapin diganti menjadi Panitia Persiapan Kabupaten Tapin, yang kemudian langsung disetujui perubahan organisasi itu dengan Ketua Basuni Thaufik. Dan Panitia Persiapan Kabupaten Tapin itulah yang turut berpartisipasi dalam kepanitiaaan pada upacara peresmian berdirinya Kabupaten Tapin pada 30 November 1965 di lapangan Kabupatenan (Halaman rumah pejabat Bupati) oleh Menteri Dalam Negeri RI DR Soemarno Sostroatmojo atas UU Nomor Tahun 1965.
PEMIMPIN KABUPATEN TAPIN

  1. Patih H Naseri (1964-1965)

  2. M Hanafiah (1965-1967)

  3. Drs. Fadhullah Thaib (1966-1967)

  4. Haji Muhammad Noor (1967-1972)

  5. Haji Noor Ifansyah (1972-1978)

  6. Said Alwi Al Musawwa (1978-1983)

  7. Haji Ahmad Makkie (1983-1988)

  8. Haji Knach Noor Ajie SH (1993-1998)


Kepala BKD Kalsel Belum Berani Umumkan Tes CPNS



BANJARMASIN - Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kalsel hingga pukul 22.30 wita belum berani mengumumkan hasil tes CPNS di Pemprov Kalsel dan Pemkab Kabupaten dengan sistem Lembar Jawaban Komputer (LJK), Senin (23/12). Padahal, Sekda Kalsel, M Arsyadi sudah menerima hasil tes di Jakarta beberapa hari lalu.
Kepala BKD Kalsel, M Thamrin pun meminta maaf karena belum bisa mengumumkan hasil tes CPNS seperti yang direncanakan pada 24 Desember 2013. Alasannya data induk sesuai surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara yang akan diupload pada situs BKN belum muncul.
"Jadi mohon maaf, kami masih belum bisa umumkan karena data induk yang janji Menpan dalam suratnya akan diupload di situs belum muncul. Terimakasih atas pengertiannya," katanya.
Ia pun hingga Senin malam masih terus memantau portal BKN di kediaman Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin Jalan R Soeprapto Banjarmasin. Dirinya berada di kediaman Orang Nomor Satu di Kalsel itu tidak bersama-sama kepala BKD Kabupaten/Kota. (ETI)
(Sumber: Banjarmasin Post edisi Selasa, 24 Desember 2013)

Minggu, 22 Desember 2013

Mengenang Haulan Tuan Guru K. H. M. Syarwani Abdan Bangil - Jatim



             Setiap ahad ketiga bulan Shafar ada pemandangan istimewa di kota Bangil. Ribuan ummat Islam dari pulau Kalimantan, khususnya suku Banjar, mulai masyarakat biasa, sampai para pembesarnya, kalangan ulama maupun kalangan pejabatnya, mulai para Bupati hingga orang nomor satu provinsi Kalimantan Selatan, membanjiri Kota Bangil. Tidak ketinggalan kaum muslimin pecinta ulama dan aulia di seluruh Indonesia bahkan dari luar negeri turut larut pada di tengah-tengah kota bordir itu.

Kecintaan mereka yang begitu besar membuat mereka rela menyeberang lautan untuk ikut menghadiri haul ulama panutan mereka, Tuan Guru Bangil yang memiliki nama lengkap KH. M. Syarwani Abdan bin Haji Muhammad Abdan bin Haji Muhammad Yusuf bin Haji Muhammad Shalih Siam bin Haji Ahmad bin Haji Muhammad Thahir bin Haji Syamsuddin bin Saidah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Tuan Guru Bangil dilahirkan pada tahun 1334 H/1915 M di kampung Melayu Ilir Martapura. Sejak kecil Beliau sudah memiliki himmah (perhatian / semangat) yang tinggi untuk belajar ilmu agama. Karena ketekunannya dalam belajar, Beliau sangat disayangi oleh para gurunya ketika masih berdomisili di Martapura. Diantara guru beliau adalah pamannya sendiri yaitu  KH. M. Kasyful Anwar, Qadhi Haji Muhammad Thaha, KH. Ismail Khatib Dalam Pagar dan banyak lagi yang lainnya.

Pada usia masih sangat muda beliau meninggalkan kampung halamannya Martapura menuju pulau Jawa dan bermukim di Bangil dengan maksud memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama di Kota Bangil dan Pasuruan. Di antara guru beliau adalah KH. Muhdhar Gondang Bangil), KH. Abu Hasan (Wetan Alun Bangil), KH. Bajuri (Bangil) dan KH. Ahmad Jufri (Pasuruan). Orang tua beliau sendiri pada saat itu memang sudah lama berdiam di Kota Bangil untuk berniaga.

Dua Mutiara Banjar

Saat beliau berumur 16 tahun, pamannya Syekh Muhammad Kasyful Anwar seorang ‘Aalimul Allamah (seorang yang sangat luas dan mendalam ilmu agamanya), hingga Tuan Guru Syekh Muhammad Zaini bin H. Abdul Ghani AlBanjari (Abah Guru Sekumpul) pernah menyebutnya sebagai seorang Mujaddid (pembaharu), oleh membawa beliau pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama saudara sepupunya yaitu Syekh Muhammad Sya’rani Arif, yang dikemudian hari juga dikenal sebagai seorang ulama besar di Martapura.

Selama berada di Tanah Suci kedua pemuda ini dikenal sangat tekun mengisi waktu dengan menuntut ilmu ilmu agama. Keduanya mendatangi majelis majelis ilmu para ulama besar Mekkah pada waktu itu. Di antara guru guru beliau yaitu Sayyid Amin Kutby, Sayyid Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Muhammad al-Araby, Sayyid Hasan Al-Masysyath, Syeikh Abdullah Al-Bukhari, Syeikh Saifullah Daghestani, Syeikh Syafi’i asal Kedah, Syeikh Sulaiman asal Ambon, dan Syekh Ahyad asal Bogor.


Rupanya ketekunan belajar dua keponakan Syeikh Muhammad Kasyful Anwar ini diperhatikan oleh para guru-gurunya. Diceritakan bahwa para gurunya itu sangat menyayangi keduanya. Ketekunan dan kecerdasan mereka sangat menonjol hingga dalam beberapa tahun saja keduanya sudah dikenal di Kota Mekkah hingga keduanya dijuluki “Dua Mutiara dari Banjar”. Tak mengherankan jika keduanya di bawah bimbingan Sayyid Muhammad Amin Kutby, bahkan sempat mendapatkan kepercayaan mengajar selama beberapa tahun di Masjidil Haram.


Selain mempelajari ilmu ilmu syariat, Beliau juga mengambil bai’at tarekat dari para masyayikh di sana, diataranya bai’at Tarekat Naqsyabandiyah dari Syekh Umar Hamdan dan Tarekat Samaniyah dari Syeikh Ali bin Abdullah Al-Banjari. Setelah kurang lebih sepuluh tahun menuntut ilmu di Kota Makkah, pada tahun 1939 bersama sepupunya Tuan Guru Bangil  kembali pulang ke Indonesia dan langsung menuju tanah kelahirannya, Martapura.

Sang Wali Mastur

Sepulang kepulangan beliau dari Mekkah ia menyelenggarakan mejelis-majelis ilmu di rumahnya. Beliau sempat juga mengajar di Madrasah Darussalam. Tuan Guru Bangil kemudian diminta untuk menjadi seorang qadhi, namun hal tersebut ditolaknya karena beliau lebih senang berkhidmat kepada ummat tanpa terikat dengan lembaga apapun. Selanjutnya, pada tahun 1943 Beliau pergi ke Kota Bangil dan sempat membuka majelis untuk lingkungan sendiri hingga tahun 1944. Di samping itu Beliau juga sempat berguru kepada  Syeikh Muhammad Mursydi, Mesir. Setelah setahun di Bangil, Beliau lalu kembali lagi ke Martapura. Kemudian pada tahun 1950, Beliau sekeluarga memutuskan untuk hijrah ke Kota Bangil.

Guru Bangil, demikian Alm. Abah Guru Sekumpul memanggil beliau di manapun beliau tinggal senantiasa berada dalam keseharian yang sangat sederhana, hingga tak banyak yang tahu bahwa Beliau adalah  tokoh besar. Selain pakaiannya yang sederhana, di kamar tidurnya pun Beliau tidak menggunakan ranjang. Beliau juga tidak mempunyai lemari khusus untuk pakaiannya, pakaian miliknya diletakkan menumpang pada bagian lemari kitabnya. B seorang yang telah mengambil jalan Khumul (menjauh dari keramaian) dan tak berharap akan kemasyuran, hingga Almarhum Mbah Hamid Pasuruan pernah mengatakan “Saya ingin sekali seperti Kyai Syarwani, Beliau itu alim tapi Mastur tidak Masyhur. Kalau saya ini sudah terlanjur Masyhur, jadi saya sering kerepotan karena harus menemui banyak orang, menjadi orang masyhur itu tidak mudah, bebannya berat, kalau Kyai Syarwani itu enak, tidak banyak didatangi orang”.

Suatu ketika, sejumlah kyai berkumpul dan berinisiatif untuk mendalami ilmu agama dalam halaqah khusus kepada Kyai Hamid Pasuruan, namun setelah hal tersebut disampaikan kepada Kyai Hamid beliau menolak permintaan itu seraya menyarankan supaya mereka mendatangi KH. Syarwani Abdan. Berdasarkan arahan Kyai Hamid, merekapun mendatangi KH. Syarwani Abdan dan menyiapkan beberapa pertanyaan untuk sekdar mengetahui seberapa dalam ilmu dari KH Syarwani Abdan. Ketika mereka datang, Guru Bangil sedang duduk sambil membaca sebuah kitab. Di awal pembicaraan, sebelum mereka sempat membuka pertanyaan yang telah mereka persiapkan, Guru Bangil mendahului bertanya kepada mereka, “Antum ke sini ingin bertanya masalah ini dan itu, kan?. Beliau  menanyakan hal itu sambil menunjuk kitab yang masih terbuka tadi. Kontan hal ini membuat mereka takjub sekaligus kagum. Ternyata semua pertanyaan yang telah mereka persiapkan, dengan tepat terjawab dalam halaman kitab yang masih terbuka di tangan beliau itu, subhanallah.

Setelah menyaksikan kealiman Guru Bangil, mereka meminta kepada Beliau  untuk membuka majelis untuk mereka. Beliau tidak serta merta mengabulkan permintaan mereka, tetapi terlebih dahulu menanyakan hal tersebut kepada Kyai Hamid. Setelah Kyai Hamid memberi isyarat persetujuan, barulah Beliau bersedia membuka majelis untuk para kyai ini, subhanallah Kedua kyai besar yang tawadhu’ ini memang saling mencintai dan menghormati satu sama lain.

Kyai Hamid adalah ulama besar yang kharismatis dan menjadi tujuan kedatangan banyak orang, karenanya tak jarang orang yang datang kesulitan menemui beliau, tapi anehnya berdasarkan pengalaman orang orang yang pernah bertemu beliau, mereka akan mudah menemui Kyai Hamid bila sebelumnya orang tersebut menemui KH. Syarwani Abdan. Tak jarang baru sampai di depan pintu, Kyai Hamid sendiri yang membukakan pintu kepada para tamu, entah Sirr (rahasia) apa yang didapat oleh para tamu Kyai  Syarwani Abdan, hingga Kyai Hamid selalu menyambut mereka dengan penuh suka cita padahal pada saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang.

Guru Para Ulama

Atas dasar dorongan para ulama serta rasa tanggungjawabnya untuk menyiarkan ilmu ilmu agama, maka pada tahun 1970 Tuan Guru Bangil memutuskan mendirikan pesantren yang diberi nama PP. Datuk Kalampayan, nama yang diambil untuk mengambil berkah julukan datuknya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Para santrinya banyak berasal dari Banjar hingga pondok pesantren itu sendiri sering disebut Pondok Banjar.

Dari hasil didikan Tuan Guru Bangil  lahirlah murid murid beliau yang menjadi ulama-ulama besar. Di antaranya adalah yang mulia Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari, Kyai Abdurrahim, Kyai Abdul Mu’thi, Kyai Khairan (daerah Jawa), KH. Prof. Dr. Ahmad Syarwani Zuhri (Pimpinan PP. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Balikpapan), KH.Muhammad Syukri Unus (Pimpinan MT Sabilal Anwar al-Mubarak Martapura), KH. Zaini Tarsyid (Pengasuh MT Salafus Shaleh Tunggul Irang seberang Martapura) yang juga menantu beliau,  KH. Ibrahim bin KH. Muhammad Aini (Guru Ayan) Rantau, KH. Ahmad Bakeri (Pengasuh PP. Al-Mursyidul Amin Gambut), KH. Syafii Luqman, Tulung Agung, KH. Abrar Dahlan (Pimpinan PP di Sampit, Kalimantan Tengah),  KH. Safwan Zuhri (Pimpinan PP Sabilut Taqwa Handil 6 Muara Jawa Kutai Kertanegara) dan banyak lagi tokoh tokoh lainnya yang tersebar di penjuru Indonesia.
Menghadap Ilahi

Setelah sekian banyak mencetak kader ulama dan berkhidmat dalam dakwah, meningkatkan ilmu dan amal bagi murid-murid dan masyarakat luas, akhirnya pada malam Selasa jam 20.00, tanggal 11 September 1989 M bertepatan dengan 12 Shafar 1410 H, Guru Bangil wafat dalam usia lebih kurang 74 tahun. Beliau kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga dari para habaib bermarga  al-Haddad, berdekatan dengan makam Habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad, di Dawur, Kota Bangil yang berjarak tidak jauh dari rumah dan pondok pesantren yang beliau bangun. Makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat Muslim dari berbagai penjuru daerah, tak terkecuali dari Kalimantan Selatan.

Guru Bangil banyak meninggalkan contoh yang patut untuk diteladani, beliau meninggalkan kebaikan yang layak untuk dikenang, dan beliau meninggalkan warisan publik yang patut untuk diikuti. Kehadiran beliau di tengah masyarakat Banjar dan Bangil terasa sangat luar biasa. Untuk memperingati dan mengingat jasa-jasa beliau, serta untuk mengikuti jejak dan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam, setiap tahun, yakni setiap tanggal 12 Shafar diadakan haul Guru Bangil, yang selalu dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai, terutama jamaah dari Kalimantan serta murid-murid beliau.


SUMBER :  http://alisadikinchalidy.blogspot.com/2013/01/mengenang-haul-ke-24-tuan-guru-khm.html

Jumat, 29 November 2013

CARA UPDATE PATCH DAPODIK VERSI 204





Aplikasi Dapodikdas masih terus mengalami pengembagan, baik untuk memperbaiki bug atau menambah perfoma aplikasi. Untuk jika sudah tersedia aplikasi versi terbaru dan sebelumnya Aplikasi Dapodikdas telah terinstal di laptop, Anda tinggal mendownload Patch versi terbaru.

Dengan memperbarui atau update Patch versi terbaru akan didapatkan tampilan ataupun fitur terbaru dari Aplikasi Dapodik. Untuk mengupdate Patch aplikasi terbaru bisa didownload filenya di laman situs Informasi - Data Pokok Pendidikan Dapodikdas.

Cara Memperbaru Patch Aplikasi Dapodikdas Versi Terbaru
1. Kunjungi laman Unduh website Dapodikdas,
2. Pada menu aplikasi, pilih Patch versi terbaru.
3. Buka Patch versi terbaru dan instal di laptop.

Saat tulisan ini dibuat, Patch Aplikasi Dapodikdas versi terbaru adalah Patch versi 2.0.4, masih ada kemungkinan pengembang Aplikasi Dapodikdas memperbarui aplikasi pendataan ini dengan versi yang lebih bail lagi dan seterusnya.

Secara umum, Aplikasi Dapodikdas ini untuk menjaring data 3 data utama yaitu terkait peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan (PTK), dan satuan pendidikan (sekolah) yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kemendibud. 




Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2013/11/cara-update-patch-aplikasi-dapodikdas-versi-terbaru.html#ixzz2m78uadEW

DAPODIK Patch Versi 2.0.4 telah rilis




Demi menyempurnakan aplikasi dapodik yang akhir-akhir ini sering sekali teman-teman OPS kebingungan dengan masalah-masalah yang ditimbulkan, maka pihak OPS pusat meluncurkan patch versi terbarunya yaitu 2. 0. 4.

Dengan harapan semoga aplikasi ini dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan harapan semua. OK, langsung saja, sebelum versi 2. 0. 4 keluar dimohon para operator pendataan dapodik memperhatikan beberapa ha berikut ini. Baik sebelum maupun Patch versi 2.0.4 keluar.

Sebelum anda mengnstall Patch Versi 2.0.4, lakukan :
  1. Pastikan versi Aplikasi dapodik anda adalah versi 2.0.3 ( jika menggunakan versi selain itu , maka segala resiko yang terjadi merupakan tanggung jawab OPS sendiri)
  2. Selesaikan dan lengkapi data yg tidak bermasalah.
  3. Inputkan PD baru dan PTK baru
  4. Backup database versi 2.0.3. Klik di sini untuk panduan cara backup data
  5. Sabar menunggu versi 2.0.4 (dalam hitungan jam akan realease)
  6. Instal Patch 2.0.4 (jika sudah keluar)
  7. Pastikan instalasi sukses (tidak ada masalah setelah login)
  8. Backup lagi database awal 2.0.4
  9. Selesaikan data yg tadi bermasalah
  10. Lakukan Sinkronisasi (minimal 2 x suskes dengan jeda waktu minimal 10 menit). Klik di sini untuk cara sinkronisasi
  11. Selesai
  12. Keterangan :
    • Kenapa harus backup ? Karena pada versi 2.0.4 ini, merombak struktur database aplikasi, yang dimungkinkan terjadi kegagalan jika PC tidak fit. Jadi jangan ambil resiko...
    • Migrasi dari 2.0.3 --> 2.0.4 OK, namun migrasi langsung dari 2.0.4 --> 2.0.3 akan bermasalah, semua PD akan hilang dari tabel utama (dll) karena database sdh diubah ke struktur baru
    • Jika terpaksa kembali ke 2.0.3, maka unistall aplikasi daninstalkan app versi 2.0.3 lalu restore/kembalikan database yg pernah di backup.

    Semoga informasi Tentang Patch Versi 2.0.4 [ Operator Wajib Membaca!! ] ini dapat membantu, sekian.

Sabtu, 06 April 2013

RAMA DAN SHINTA


Hanoman hanya bisa menangis melihat apa yang terjadi dalam gelaran sejarah negeri Ayodya hari ini. Negeri yang pernah dibelanya dengan air mata dan darah, negeri hebat dan gilang gemilang yang dipimpin yang Maha Hebat Sri Rama sang titisan Wisnu sendiri hari ini begitu kelam oleh arang dan lumut. Namun apa yang bisa dia lakukan, ini semua sudah seperti suratan… siapa menabur angin dia yang akan menuai badai, dan saat ini adalah masa ketika badai itu usai! “Maafkan aku Sang Dewi Sinta…kuasa dunia bukan di tanganku, tapi aku yakin bumi ada dalam genggamanmu hai wanita agung..laknatlah Sri Rama!” sengguk Hanoman, kera putih bijak yang kini telah menua renta.
———————————-
Bertahun waktu berlalu sejak Sri Rama, Laksmana dan Sinta terpaksa tinggal dalam pengasingan di kegelapan Hutan Dandaka, suatu ujian terbesar bagi sang pewaris tahta, ujian akan kebesaran hati. Bersama Laksmana, adik sekaligus kasim yang setia, Sinta dijaga bersama dari bahaya para siluman dan binatang hutan. Namun keputihan hati Sinta pula lah yang akhirnya membuatnya terpancing sang Kijang emas gadungan Kala Marica dan terampaslah Sinta oleh sang durjana Dasamuka, penguasa Alengkadiraja yang paling ditakuti.
Sinta sedang duduk di taman salah satu istana yang diberikan oleh Rahwana ketika datanglah Hanoman, sang utusan Sri Rama yang datang secara khusus dari Pancawati untuk melihat situasi Alengka sebelum penyerangan. Selain untuk mengamati keadaan, Hanoman punya misi lain.
“Siapakah dirimu hai monyet putih?” kata Sinta yang ditemani Trijata, putri Wibisana.
”Aku Hanoman, utusan Sri Rama yang Agung, aku diserahi tugas untuk menyampaikan pesan bahwa Sri Rama akan datang dan menjemputmu,” jelas Hanoman. ”Namun ada satu hal yang juga diinginkan oleh Sri Rama, dia ingin engkau memakai cincin ini sebagai bukti kalau dirimu masih suci dari sentuhan Rahwana sang angkara.” Mendengar hal itu, menangislah Sinta dalam hening sembari tetap mengulurkan jari dan mencobanya. Cincin itu pas di jari Sinta yang lentik, bukti bahwa dirinya masih suci dan setia.
Tiba-tiba meledaklah hardikan Trijata, “Apa-apaan Rama ini, untuk apa ini semua, tak percayakah ia pada kekasihnya sampai harus dibuktikan dengan cincin segala. Sungguh memalukan,” hambur Trijata, sang pendamping Sinta di Alengka. Trijata sendiri adalah keponakan Rahwana namun membenci Rahwana karena telah membunuh ayahnya.
“Biarlah Trijata, tak semudah itu lelaki memahami kesetiaan, apalagi ia adalah penguasa, biarlah ini jadi bukti kesetiaanku yang tak lekang, kembalilah dan sampaikan pada kekasihku Sri Rama bahwa aku menantinya.” ujar Sinta dengan lembut. Hanoman pun berbalik ke Pancawati -pos penyerangan mereka- dengan hati trenyuh.
Akhirnya balatentara Rama dan Sugriwa memang datang dan mampu menghancurkan Alengka, termasuk Rahwana dan Kumbakarna, sang raksasa patriot Alengka. Sri Rama dengan langkah tegap teriring panji-panji kemenangan berkibar menuju Taman Argasoka, tempat Sinta ditahan oleh Rahwana.
Binar mata Sinta tak dapat disembunyikan ketika kembali bertemu belahan jiwanya, Sri Ramawijaya yang telah berpisah bertahun-tahun. Sayangnya hal itu tak berlangsung lama.
“Sinta kekasihku, dirimu telah 12 tahun di Argasoka ini, dunia dimana durjana Dasamuka dapat menyentuh dan menguasaimu, berkenankah dirimu melakukan satu ujian lagi agar aku yakin akan dirimu?” kata-kata Rama seperti gelegar petir siang bolong di telinga Sinta. Bahkan Hanoman pun tak percaya mendengar kata-kata panutannya ini. Pria perkasa yang selama ini begitu bijaksana, bagaimana mungkin dapat dengan tega meminta sekali lagi ujian kesucian atas Sinta, bidadari jelita yang telah begitu setia menantinya dan berani menolak Rahwana sekalipun. ”Apakah tak cukup bukti dengan ujian cincin dahulu?” gusar Hanoman. Sementara Laksmana hanya diam, karena dari dialah usulan ujian ini datang.
Dengan hati yang remuk, Sinta menyanggupi ujian apapun itu karena ia tahu, Rahwana tak pernah menyentuhnya. ”Besok aku akan menyelenggarakan ujian bakar diri, masuklah ke dalam api yang menyala-nyala, bila memang dirimu masih suci tentu dewa-dewa akan menyelamatkanmu istriku…” dingin sekali kata-kata Rama. Sinta merasa hancur mendengarnya, bukan api yang ia takuti melainkan ketidakpercayaan Rama, satu-satunya pria yang ia cintai selama ini, sampai tega dua kali memintanya melakukan ujian kesucian. Namun dengan kemantapan hati, esok harinya Sinta tetap menjalani ujian itu. Dan benar, berkat kesucian Sinta, Dewa Agni melindunginya dari kobaran api yang menjilat-jilat. Hanoman merasa sangat malu menatap ujian yang diadakan di tengah alun-alun ini.
Rama dan balatentaranya kembali ke Ayodya membawa Sinta, kemudian Sri Rama menjadi maharaja Ayodya yang paling Agung. Namun Sinta yang dibawa bukanlah Sinta yang sama saat diculik Dasamuka di Dandaka. Sinta yang ini tinggal membawa serpihan hatinya yang telah luluh lantak dihancurkan Sri Rama sendiri, lelaki yang dipercayainya. Saat itu Sinta berpikir: ”Bahkan Rahwana jauh lebih terhormat daripada Sri Rama yang agung ini, Rahwana tak pernah memaksa menyentuhnya, apalagi memaksanya menjadi istri, meski durjana Dasamuka tetap menjaga kehormatannya, tapi justru suaminya sendiri yang menghinakannya,” air matanya kembali membasahi negeri Ayodya.
Suatu masa datanglah masa pageblug di Ayodya, mata air mengering, lahan gagal panen, penyakit meruak di seantero negeri, dan hujan pun tak kunjung turun. Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus, seribu, seratus ribu gunjingan muncul di kalangan rakyat dan bahkan dalam kerabat istana.
”Pasti ini akibat hawa durjana yang dibawa oleh Sinta sepulangnya dari Alengka!” begitu teriak sang penjual daging di pasar.
”Betul, sebelumnya negeri ini kaya raya, sejak kepulangan Sinta lah semua ini berubah” pekik tukang catut kereta.
”Sinta harus dibuang dari Ayodya!!” teriakan lebih banyak lagi
”Ya, ya, setuju..setuju!” ribuan orang akhirnya bersuara sama.
Kabar ini sampai juga ke telinga Maharaja Sri Ramawijaya, membuatnya gundah antara berpikir ia adalah suami Sinta namun dirinya juga seorang raja yang harus mendengar kata-kata rakyatnya, sebodoh apapun mereka. Kekuasaannya tak akan berjalan mulus jika terus dirongrong rakyat dan kalangan pembantunya yang tak menginginkan Sinta. Maka terjadilah hal yang tak masuk nalar orang normal….Sri Ramawijaya mengusir Sinta dari istana!
Sinta dengan perut mengandung, sendirian tersaruk-saruk di tengah hutan, padang rumput, merenangi sungai, untuk melangkah menjauhi istana yang pernah menjadikannya permaisuri agung. ”Duh….kenapa sampai begini, karena kuasa dan kecongkakan Rama, segala kesuciaan, kesetiaan, dan cinta yang kuberikan serasa tak berarti?”
Dalam perjalanan berminggu-minggu, segala kecantikan Sinta lenyap tertelan buasnya medan pengasingannya yang entah berakhir dimana. Sampai akhirnya badannya tak sanggup lagi bangun, tenggelam lah Sinta dalam ketidaksadaran.
Beberapa tahun kemudian, tampaklah Sinta bersama 3 orang sedang bercengkerama di sebuah pondok di pinggir hutan. Orang pertama adalah Walmiki sang begawan, dan dua orang muda lain adalah Lawa dan Kusha, putra kembar Sinta.
Rama dan Ayodya berada jauh dari sana, setelah Sinta diusir negeri itu tak bertambah baik, Rama berada dalam kedukaan yang tinggi karena kehilangan Sinta sang bidadarinya namun membawanya pulang adalah mustahil karena rakyat dan pembantunya tidak menginginkan Sinta kembali. Rama berubah menjadi seorang raja yang setengah waras seakan kehilangan nalar dan gila untuk terus berperang sebagai pelampiasannya atas hilangnya separuh jiwanya dalam diri Sinta yang jelita. Hanoman yang bijaksana pun telah meninggalkannya dan hidup sebagai pendeta dalam kesunyian.
Sampai pada suatu masa, dalam gelaran invasi besarnya sampai lah Rama di daerah dimana Walmiki dan Sinta serta kedua anaknya tinggal. Kedua kekasih lama akhirnya bertatap muka, masih sama-sama menyimpan kerinduan dan cinta mendalam meski Sinta masih merasakan luka sayat yang dalam.
”Sinta kekasihku, ini aku Rama, aku datang,” kata Rama.
Sinta tercekat menatap mata Rama, cahaya itu masih ada di kedua orang kekasih itu.
”Untuk apa kau datang Sri Rama, aku sekarang perempuan desa kotor, tak layak bertutur dengan seorang maharaja seperti dirimu,” ujar Sinta berusaha tabah.
”Aku ingin membawamu kembali ke Ayodya”
”Paduka Raja, engkau tak menghendaki kekuasanmu tidak didukung oleh orang kebanyakan, untuk terus di singgasana engkau membutuhkan dukungan banyak orang, dan orang-orang itu tak menghendakiku lagi.”
”Sinta, aku tidak mempertaruhkan cintaku untuk kekuasaan. Marilah ikut aku ke istana, namun sebelumnya bisakah dirimu melakukan satu ujian lagi supaya aku percaya engkau benar-benar suci?”
Seketika kelam menyelimuti petang itu, langit tiba-tiba gelap, tak tampak lagi cahaya dari Batara Surya, semua mengiringi ledakan kesedihan yang tak tertahankan lagi di hati Sinta, habis sudah serpihan hatinya dilindas kedukaan begitu dalam dan menyentak dadanya dengan keras.
”Engkau ternyata tetap tak mampu memisahkan cinta dan keangkuhan Sri Rama yang Agung, titisan sang Wisnu sendiri. Tak boleh ada noda dalam kekuasaanmu dan dirimu yang suci ini”
Rama tetap terdiam di atas kudanya, Sinta melanjutkan ucapannya sambil menahan isakan, bahkan langitpun tak mampu melihat kebesaran hati Sinta dan kedukaan yang melingkupinya.
”Baiklah maharaja Sri Rama, jika engkau menuntut kesucianku, akan aku berikan! Demi Dewa Bumi yang melahirkan diriku, biarlah aku ditelan tanah yang merekah, hilang lenyap selama-lamanya jika diriku memang memenuhi tuntutan kesucian. Kuucapkan sumpahku ini Rama, untuk menunjukkan betapa kesucian tidak mungkin diabdikan kepada kuasa keangkuhan!”
Bumi tiba-tiba bergetar hebat, awan di langit berputar-putar, angin berubah jadi dingin menusuk tulang seusai Sinta mengucapkan sumpahnya. Tanah dibawahnya merekah, terbelah, dan Sinta melayang ke bawah, tanpa tangis dan jeritan, tanpa suara.
”Ibuuuu…!!!” hanya teriakan Lawa dan Kusha yang terdengar, sampai akhirnya bumi menutup kembali.(ll)
Dialog Sinta dan Rama di bagian akhir diambil dari Kitab Omong Kosong, oleh Seno Gumira Ajidarma, 2006, hal 73.